Articles
Youthful and Firm Skin

Sebelum smartphone dan laptop booming seperti saat ini, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi masih terlihat jelas.

Namun, berbeda halnya dengan saat ini, di mana informasi dan data pekerjaan dapat diakses dengan mudah, dari mana saja. Kondisi yang semakin praktis ini, sayangnya malah membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur.

Dahulu mungkin kita mulai kerja saat jam masuk kantor, sebut saja pukul 7 atau 8 pagi. Selanjutnya, kita berhenti kerja saat jam pulang kantor, sekitar jam 4 atau jam 5 sore. Sesekali mungkin kita perlu lembur karena ada pekerjaan yang belum terselesaikan. Namun, waktu lembur tersebut terhitung sebagai tambahan ekstra.

Beda halnya dengan saat ini. Dengan smartphone yang kita miliki, membuka email, berkoordinasi dengan tim, menulis artikel, ataupun berjualan, dapat kita lakukan dari mana saja. Membuat presentasi atau mengedit video, juga dapat kita lakukan dengan mudah dengan laptop yang praktis dibawa kemana saja.

Hal ini tidak hanya berlaku bagi karyawan saja loh. Wirausahawan atau entrepreneur yang baru memulai bisnis atau proyek baru mereka pun, kebanyakan juga pola kerja yang sama. Bekerja dari mana saja dan kapan saja. Jelas, harapannya supaya semakin banyak pekerjaan yang bisa terselesaikan, sehingga target yang dicapai bisa makin tinggi dan pelanggan makin puas.

Tapi, apa benar seperti itu?

Ternyata, saat terlalu banyak bekerja, produktivitas kita malah makin menurun. Kualitas pekerjaan justru jadi taruhannya. Studi menunjukkan bahwa, karyawan yang bekerja 35-49 jam per minggu, punya kualitas pekerjaan yang lebih baik dibandingkan mereka yang bekerja di atas 50 jam per minggu.

Selain produktivitas, ternyata waktu kerja yang tidak dibatasi dengan kehidupan pribadi memberikan dampak buruk lainnya.

Gangguan tidur  

Menurut penelitian, cahaya yang dipancarkan oleh gadget kita, dapat menyebabkan kita menjadi lebih sulit untuk tidur, dan kualitas tidur pun jadi menurun. Akibatnya, kita akan sulit fokus saat bekerja keesokan hari.

Selain itu, menurut penelitian, mereka yang tidur kurang dari 6 jam sehari, umumnya bekerja 1,5 jam lebih lama dibandingkan mereka yang tidur mendekati 8 jam sehari. Waktu tidur yang kurang dan stress akibat tekanan pekerjaan ini, berakibat buruk untuk kesehatan kita, misalnya naiknya tekanan darah. Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh Universitas Harvard dan Stamford, membuktikan bahwa waktu kerja yang terlalu panjang, dapat meningkatkan angka kematian sampai 20%!

Problem emosi

Buruknya pola hidup apabila kita tidak dapat membatasi waktu kerja dengan kehidupan pribadi, ternyata tidak hanya berpengaruh terhadap fisik. Emosi atau kondisi jiwa kita pun bisa terpengaruh bahkan lebih fatal!

Daya konsentrasi manusia ada batasnya. Apabila kita dipaksa untuk memperhatikan hal yang sama terus-menerus, lama-lama kondisi mental kita bisa mengalami burnout atau kelelahan. Bahkan, tak jarang juga mereka yang stress akibat pekerjaan justru terseret pada hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri, seperti mengonsumsi obat-obatan atau minuman beralkohol hanya untuk menghindari stress.

Berkumpul dengan keluarga, teman, sahabat, dan orang-orang di sekitar kita sangat penting untuk mendapatkan kehidupan pribadi yang lebih berkualitas. Melakukan hobi dan bermeditasi, juga bisa jadi salah satu alternatif untuk mengurangi efek burnout akibat waktu kerja yang tak terbatas.

Nah, untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik, kita perlu menyusun aktivitas kita agar dapat mencapai kondisi work-life balance.

Apa itu work-life balance?  

Work-life balance merupakan sutu keadaan tanpa konflik antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Work-life balance diciptakan dengan mengelola pekerjaan secara efektif, sehingga waktu kerja benar-benar digunakan untuk bekerja dan waktu pribadi benar-benar digunakan untuk aktivitas di luar pekerjaan, seperti waktu untuk keluarga, komunitas, hobi, pengembangan diri, berwisata, dan lainnya.

Mengapa work-life balance begitu penting?

Menerapkan work-life balance mempunyai banyak manfaat, baik untuk diri sendiri maupun bagi perusahaan tempat kita bekerja atau bisnis kita sendiri.

Dengan menerapkan work-life balance, produktivitas kerja kita bisa meningkat, stress akibat kerja yang kita alami bisa berkurang, motivasi kerja kita akan meningkat, dan tingkat kesehatan fisik serta mental kita akan membaik.

Sedangkan bagi perusahaan, dengan menerapkan work-life balance, maka tingkat keterlambatan dan absen karyawan akan berkurang, komitmen kerja karyawan semakin meningkat, berkurangnya pergantian/turn-over karyawan, dan ujung-ujungnya, layanan yang diberikan ke pelanggan bisa lebih maksimal dan mendatangkan keuntungan yang lebih baik untuk perusahaan.

Tips memulai Work-Life Balance

Lantas, bagaimana tips mudah yang dapat dilakukan untuk mencapai work-life balance? Ini dia 6 tips yang bisa diterapkan sekarang juga untuk mencapai work-life balance dalam waktu singkat.

Fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu

Karena teknologi berkembang semakin pesat, kita seringkali merasa menjadi seorang pahlawan. Kok bisa? Tanpa sadar kira seringkali melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu, benar bukan? Istilah kerennya multitasking.

Tanpa sadarpun, kita sering kali mengamini bahwa multitasking jauh lebih baik daripada mengerjakan hanya satu pekerjaan dalam satu waktu. Kita sebut saja monotasking. Kenapa lebih baik? Ya karena kita merasa dengan menjalankan multitasking, pekerjaan kita bisa lebih cepat selesai dibandingkan dengan monotasking.

Tapi, apa benar seperti itu? Ternyata tidak! Menurut penelitian, saat melakukan multitasking, otak kita membutuhkan tenaga ekstra dan waktu ekstra untuk berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Kita pasti sering mengalami berhenti kerja beberapa saat hanya untuk mengingat kembali posisi terakhir kita di pekerjaan itu. Benar atau benar? :)

Jadi, tips work-life balance pertama yang paling mudah dituliskan tapi paling susah diaplikasikan adalah : HINDARI MULTITASKING.

Hindari menjadi seorang perfeksionis

Mengerjakan suatu pekerjaan dengan sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik memang penting. Namun, jangan sampai obsesi untuk selalu mendapatkan hasil yang sempurna, justru malah menyakiti diri kita sendiri.

Memang, sewaktu kecil, saat belajar, kita biasanya dituntut untuk mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Namun, seiring berjalannya waktu, bagi mereka yang perfeksionis, kebiasaan ini justru bisa terbawa sampai dewasa.

Saat masih kecil, kita masih punya banyak waktu untuk melakukan suatu aktivitas sampai sempurna. Tapi, seiring bertambahnya usia, tanggungan kita pun semakin meningkat. Kalau kita memaksakan untuk mengerjakan segala sesuatu sampai sempurna, bisa-bisa malah mengakibatkan stress.

Karena itu, kita perlu mengetahui jenis pekerjaan apa saja yang menuntut kesempurnaan dan mana yang tidak. Jadi, kita dapat menggunakan waktu  yang cukup untuk melakukan aktivitas lain di luar kerja, daripada hanya berkutat mengerjakan suatu pekerjaan yang tak penting sampai sempurna.

Merancang to-do-list dan membuat prioritas

Tanpa jadwal yang jelas, seringkali kita malah bingung dengan apa yang akan kita kerjakan. Akibatnya, waktu yang seharusnya dapat kita gunakan untuk menyelesaikan tugas, malah jadi terbuang sia-sia.

Karena itu, membuat to-do-list atau daftar pekerjaan harian, sangat penting untuk memulai hari kita. Idealnya, to-do-list dibuat di malam sebelumnya, supaya ketika pagi hari sampai ke tempat kita beraktivitas, kita bisa langsung menjalankan jadwal yang telah kita susun.

Kalau masih tidak sempat, daripada tidak membuat to-do-list sama sekali, lebih baik dibuat di pagi hari sebelum kita memulai pekerjaan. To-do-list yang baik tidak hanya menyusun jadwal pekerjaan saja, tetapi juga jadwal lain yang wajib dikerjakan di luar pekerjaan, kecuali yang sudah bisa menjadi kebiasaan setiap hari.

Selain itu, dengan to-do-list yang telah dibuat, kita sebaiknya juga menyusun prioritas untuk pekerjaan yang harus kita selesaikan pada hari itu. Jika mempunyai bawahan atau orang-orang di sekitar yang bisa membantu kita menyelesaikan tugas tersebut, akan lebih baik kalau pekerjaan tersebut didelegasikan.

Jadi, waktu kerja kita akan menjadi semakin efektif dan dapat digunakan untuk memikirikan hal lain yang lebih penting. Sementara waktu di luar pekerjaan, dapat kita fokuskan untuk membangun diri menjadi lebih baik.

Berolahraga, bermeditasi, dan istirahat yang cukup

Sesibuk apapun kita, kita pasti masih punya waktu untuk hal-hal yang sangat krusial dalam hidup. Makan, tidur, dan pergi ke kamar kecil. Namun, ada satu hal krusial lagi yang jarang kita perhatikan. Olahraga.

 

Olahraga bisa menjadi salah satu obat penawar yang kuat untuk stress kita. Olahraga dapat memompa endorfin ke seluruh tubuh, yaitu hormon penyebab rasa bahagia. Selain itu, hormon ini dapat memperbaiki mood kita. Jadi, selalu sediakan waktu untuk berolahraga. Jika badan kita sehat, maka produktivitas kerja kita pun pasti akan meningkat.

Selain berolahraga, meditasi juga dipercaya memberikan manfaat yang baik bagi tubuh kita. Apabila kita masih bingung cara bermeditasi yang baik, cukup pejamkan mata dan atur pernapasan. Tarik napas dalam-dalam, tahan, dan hembuskan. Ulangi langkah ini terus menerus sampai kita merasa lebih baik.

Oya, istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi juga penting untuk kesehatan tubuh kita. Karena, saat digunakan untuk bekerja, tubuh juga perlu waktu untuk kembali ke keadaan normalnya, yaitu dengan cara beristirahat. Tubuh juga memerlukan “bahan bakar” untuk tetap dapat beraktivitas dengan baik, yaitu dengan cara makan makanan yang bergizi.

Apabila makanan yang kita konsumsi masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian kita, sekarang kita tidak perlu pusing lagi untuk mencari sumber makanan yang mengandung kekurangan nutrisi tersebut. Kita dapat mengonsumsi suplemen-suplemen kesehatan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian kita yang masih kurang.

Tablet multi vitamin yang banyak beredar di pasaran, bisa jadi pilihan kita untuk memenuhi kebutuhan vitamin harian kita. Selain itu, untuk melengkapi asupan protein tubuh kita, kita bisa memilih supleme kolagen yang kaya akan asam amino.

 

Sediakan waktu yang berharga untuk keluarga dan orang-orang terdekat

Sudah berhasil menerapkan waktu kerja fokus hanya untuk bekerja? Berarti saya yakin kita juga pasti bisa menerapkan yang sebaliknya, menggunakan waktu di luar kerja untuk fokus pada hal-hal yang dapat membangun diri kita.

Berkumpul dengan keluarga, bermain dengan anak-anak tercinta, bercerita dengan sahabat terdekat, ataupun menghabiskan waktu sendirian untuk membaca buku atau menonton film, bisa jadi alternatif aktivitas yang akan mengembalikan motivasi kerja kita.

Supaya hasilnya lebih maksimal lagi, jangan sampai waktu-waktu menyenangkan itu harus dicampuri dengan urusan pekerjaan, misalnya cek email.

Sepele memang kelihatannya, hanya cek email yang tak mungkin memakan waktu lama. Tapi faktanya? Seringkali kita malah harus mengalihkan fokus kita untuk mengerjakan tugas yang diinstruksikan dalam email tersebut. Dan akhirnya, kita baru menyadari, waktu pribadi kita sudah terbuang sangat banyak akibat email tersebut.

Ingat, fokus pada satu hal dalam satu waktu jauh lebih baik daripada memecah fokus kita untuk beberapa hal bersamaan. Jika hal ini sudah jadi kebiasaan kita, pastilah hidup yang work-life balance sudah di depan mata.

Ambil waktu libur yang lebih panjang

Walaupun setiap minggu idealnya kita punya waktu pribadi untuk beristirahat selama 1-2 hari, namun terkadang kejenuhan masih tetap menghampiri.

Mengambil waktu cuti untuk berlibur menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk mengatasi kejenuhan ini. Pergi travelling ke kota-kota lain, jalan-jalan dalam kota, atau mengerjakan aktivitas mengasyikkan seperti hobi selama beberapa hari, biasanya cukup untuk mengembalikan motivasi kerja kita.

Dan ingat, sebaiknya selama mengambil cuti liburan, hindari untuk memikirikan hal-hal seputar pekerjaan yang bisa menghilangkan manfaat liburan kita.

Ubah pola hidup secara bertahap, bukan mengejar hasil yang instan

Dalam melakukan suatu perubahan, seringkali kita mengharapkan hasil yang instan. Contohnya resolusi tahun baru yang begitu banyak, yang kita targetkan untuk diselesaikan semuanya di bulan Januari.

Tapi bagaimana kenyataannya? Seringkali resolusi tersebut tidak tercapai, bahkan di bulan Februari, sering kali kita malah sudah melupakannya. Penyebabnya klasik, kita mulai ter-demotivasi akibat banyak target-target kita yang belum tercapai dalam waktu super singkat tersebut.

Sama halnya dengan mengubah pola hidup untuk mencapai work-life balance. Biasanya mereka yang workaholic punya target yang setinggi langit. Misalnya dari yang sebelumnya tidak pernah berolah raga, menargetkan olah raga selama satu jam setiap harinya.

Di awal komitmen memang biasanya mereka rajin, tapi lihat beberapa waktu kemudian. Biasanya setelah beberapa bulan, mereka kembali tidak berolah raga sama sekali. Karena belum menjadi kebiasaan, akibatnya sulit sekali menyediakan waktu untuk menjalankan aktivitas tersebut.

Jadi, bagaimana tips untuk mengatasinya? Sederhana saja, mulai dari target-target yang kecil. Misalnya, berolahraga selama 5 menit setiap hari. Setelah berhasil menerapkan selama beberapa minggu, kita bisa tingkatkan ke target berikutnya, 10 menit setiap hari. Demikian seterusnya sampai 1 jam setiap hari.

Dengan membagi target besar ke dalam target-target kecil semacam ini, bisa membantu kita dalam menciptakan kebiasaan. Kalau suatu aktivitas sudah masuk menjadi kebiasaan kita, akan jauh lebih mudah dalam menyediakan waktunya, bukan?

Penutup

Nah, itu dia 7 tips untuk mulai membangun hidup kita untuk mencapai work-life balance. Memang tidak semua mudah untuk diterapkan. Saya pun terkadang kesulitan untuk melakukannya, kok.

Tapi itu wajar, karena kita semua pasti butuh beradaptasi untuk mencapai kebiasaan baru.

Lantas, kapan waktu yang tepat untuk memulainya? Jawaban sederhananya, sekarang!

Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Mulailah berinvestasi pada kesehatan kita sejak dini, supaya tak menyesal di hari tua nanti.

Sehat bugar sejak muda, kunci hidup berkualitas di waktu senja. Salam sehat luar biasa! :)

 

Instagram
Get Update With our products? SUBSCRIBE NOW!

© 2020 LE CORP FORMOS. All Rights Reserved. Terms of Use Privacy Policy Site by Kibo Creative